Teori Budaya dari Berbagai Sumber - Nadievya Rizqi (10520703) 1PA05 - Ilmu Budaya Dasar

     TEORI BUDAYA DASAR BERBAGAI SUMBER

 

       

     


                               


 


  

Disusun oleh :

Nadievya Rizqi (10520703)

 

 

 

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2020

 




KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang hingga saat ini masih memberikan kita nikmat iman dan kesehatan, sehingga saya diberi kesempatan untuk menyelesaikan laporan makalah penugasan dengan judul “Teori Budaya Dasar Berbagai Sumber” ini dengan tepat waktu. Penulisan artikel ini bertujuan sebagai penugasan dari mata kuliah Ilmu Budaya Dasar yang di ajarkan oleh Bapak Ely Sapto Utomo S.E. M.M. Sebagai penulis, saya berharap agar karya ini dapat memberikan wawasan budaya bagi pembacanya dan memberikan manfaat untuk para pembaca terutama untuk diri sendiri. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ely Sapto Utomo S.E., M.M. selaku pengajar pada mata kuliah ini. Penulis menyadari bahwa artikel ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima untuk perbaikan artikel ini.
  

 

 

 

                                                                        Jakarta, 06 November 2020

 

 

Penulis,

Nadievya Rizqi

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.          Latar Belakang

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi; diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur yang berasal dari bahasa Inggris yaitu culture dan bahasa Latin cultura. Sebagai integrasi mu sosial Budaya Dasar (IsBD) memberikan dasar- dasar pengetahuan sosial dan konsep- konsep budaya kepada manusia sehingga mampu mengkaji masalah sosial dan budaya secara baik.

Budaya itu kompleks, abstrak dan luas. Banyak aspek budaya juga menentukan perilaku komunikasi. Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dibagikan oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terdiri dari banyak elemen kompleks, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, seperti budaya, begitu intrinsik bagi manusia sehingga banyak orang menganggapnya sebagai warisan genetik. Ketika seseorang mencoba berkomunikasi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda dan mengoreksi perbedaan, mereka membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Manusia sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya

Menurut Koentjaraningrat, berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah yang berarti budi atau akal. Kebudayaan berhubungan dengan kreasi budi atau akal manusia. Atas dasar ini, Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai daya budi yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa itu. Budaya itu daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa sedangkan kebudayaan merupakan hasil dari cipta, karsa, dan rasa tersebut. Dalam kata antropologi budaya, tidak diadakan perbedaan arti antara budaya dan kebudayaan.

Ralph Linton, dalam bukunya The Cultural Background of Personality: Kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku dan hasil laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung serta diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu. (Koentjaraningrat, 1990)

Disini kata budaya hanya dipakai untuk singkatan saja dari kata kebudayaan. Adapun kata culture dalam bahasa Inggris yang artinya sama dengan kebudayaan berasal dari kata latin colere yang berarti mengolah, mengerjakan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari sinilah berkembang arti culture sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

1.2.          Rumusan Masalah

·            Apa saja teori budaya menurut berbagai sumber?

·            Apakah pendapat dan analisis penulis dari sudut pandang individu dan sebagai mahasiswa?

1.3.          Tujuan Penelitian

·      Penulis dan pembaca dapat memahami konsep budaya

·       Penulis dan pembaca mampu menguasai konsep dan teori dari budaya

·      Membuat pemikiran penulis maupun pembaca menjadi terbuka

 

BAB II

PEMBAHASAN

·         Budaya Sebagai Sistem Adaptif

Satu perkembangan penting dalam teori kultural berasal dari aliran yang meninjau kebudayaan dari sudut pandangan evolusionari. Satu jembatan antara kajian-kajian tentang evolusi makhluk hominid (seperti Australopithecus dan Pithecanthropus) dan kajian-kajian tentang kehidupan sosial makhluk manusia telah membawa kita kepada pandangan yang lebih jelas bahwa pola bentuk biologis tubuh manusia adalah "open ended", dan mengakui bahwa cara penyempurnaan dan penyesuaiannya melalui proses pembelajaran kultural (cultural learning) memungkinkan manusia untuk membentuk dan mengembangkan kehidupan dalam lingkungan ekologi tertentu. Penerapan satu model evolusionari seleksi-alam atas dasar biologis terhadap bangunan kultural telah membuat ahliahli antropologi bertanya dengan kearifan yang makin tinggi tentang cara bagaimana komuniti manusia mengembangkan pola-pola kultural tertentu. Sejumlah besar penerbitan, populer dan teknis, telah membahas tentang pentingnya dan tentang saling keterkaitan antara komponen biologis dan komponen kultural dalam tingkah laku manusia. Agresi, teritorialitas, peranan-peranan jenis kelamin, ekspresi wajah, seksualitas, dan ranah-ranah lain di mana kultural dan biologis saling terkait telah dibicangkan orang tanpa putus-putusnya dan seringkali tanpa perasaan (mindlessly). Dari semua perbincangan ini kita dapat menarik dua kesimpulan singkat. Pertama, setiap pemikiran bahwa apabila kita menguliti lapisan konvensi kultural maka pada akhirnya kita akan menemukan Primal man dan keadaan manusia yang bugil di dasarnya, merupakan pemikiran yang steril dan berbahaya. Kita memerlukan satu model interaksional yang kompleks, bukan satu pelapisan yang sederhana seperti itu. Kedua, baik determinisme ekologis maupun determinisme kultural yang ekstrem sekarang dapat didukung oleh kepercayaan dan ideologi, tetapi tidak oleh ilmu pengetahuan yang arif bijaksana. Yang perlu untuk ditelusuri adalah cara-cara bagaimana garis acuan biologis ditransformasikan dan dikembangkan ke dalam pola-pola kultural; dan ini memerlukan rencana penelitian yang imajinasi dan hati-hati dan penyelidikan yang telaten, bukan polemik-polemik dan sensasionalisme. Dari sudut pandang teori kultural, perkembangan penting telah muncul dari pendekatan evolusionari/ekologis terhadap budaya sebagai sistem adaptif. Pusat-pusat besar perkembangan pemikiran-kembali evolusionari/ekologis adalah Michigan dan Columbia. Dasar yang diletakkan oleh Leslie White telah dipermak dengan kreatif oleh pakarpakar seperti Sahlins, Rappaport, Vayda, Harris, Carneiro; dan oleh pakar-pakar arkeologi yang theory minded seperti suami-istri Binford, Flannery, Longacre, Sanders, Price, dan Meggers. Pendekatan-kembali (re-approachment) arkeologi teoritis dengan antropologi ekologis muncul sebagai salah satu perkembangan penting dalam dasawarsa yang lalu.

·         Teori-Teori Ideasional Mengenai Budaya

Berlawanan dengan ahli teori adaptasi tentang budaya, yang beranekaragam adalah sejumlah ahli teori yang melihat budaya sebagai sistem ideasional. Di sini akan dibedakan tiga cara yang agak khas dalam mendekati budaya sebagai sistem gagasan

 

o   Budaya Sebagai Sistem Kognitif

Satu tema besar yang lain pada 15 tahun terakhir ini adalah kemunculan satu antropologi kognitif yang eksplisit (juga disebut "etnografi baru", "ethnoscience", "ethnographic semantics"). Dalam prakteknya "etnografi baru" ini pada dasarnya adalah satu pengkajian terhadap sistem klasifikasi penduduk setempat (folk classification). Di luar metode "pengumpulan kupu-kupu" ini, juga telah muncul satu pandangan baru dan penting terhadap budaya, yaitu budaya sebagai cognition (pengetahuan). Budaya dipandang sebagai sistem pengetahuan. Menurut Ward Goodenough: Kebudayaan suatu masyarakat terdiri atas segala sesuatu yang harus diketahui atau dipercayai seseorang agar dia dapat berperilaku dalam cara yang dapat diterima oleh anggota-anggota masyarakat tersebut. Budaya bukanlah suatu penomena material: dia tidak berdiri atas benda-benda, manusia, tingkah laku atau emosi-emosi. Budaya lebih merupakan organisasi dari hal-hal tersebut. Budaya adalah bentuk hal-hal yang ada dalam pikiran (mind) manusia, model-model yang dipunyai manusia untuk menerima, menghubungkan, dan kemudian menafsirkan penomena material di atas. Maka kesimpulannya, Goodenough memandang budaya secara epistemologi berada dalam alam yang sama dengan bahasa (langue dari Sassure atau competence dari Chomsky), sebagai aturan-aturan ideasional yang berada di luar bidang yang dapat diamati dan diraba.

o   Budaya dan Sistem Sosiokultural

Dalam rangka mencari kejelasan isu-isu yang memisahkan ahli-ahli teori budaya yang terkenal, tampaknya kita tidak boleh mengharap bahwa gabungan yang terdiri dari berbagai unsur-unsur terpilih akan dapat ditemu - kan, lalu semua mereka sepakat dengan hal tersebut. Setiap pernyataan tentang budaya yang dapat disetujui oleh Marvis Harris dan David Schneider mungkin tidak akan berisi apa-apa. Dan sikap eclectic akan membawa kita kembali kepada konsep-konsep budaya yang luas dan penuh dengan berbagai aspek seperti masa lampau. Namun demikian, satu pemilihan konseptual akan berguna, bukan untuk mendamaikan perbedaan, tetapi untuk mengenali sumber dan keadaan mereka. Beberapa konsep adalah bersifat filosofis dan beberapa yang lain merupakan hal yang mendasar; beberapa konsep dapat diselesaikan dengan bukti empiris, beberapa yang Iain tidak. Dengan menggarisbawahi kekuatan dan membukakan kelemahan yang tersembunyi dibalik retorika yang berbunga-bunga, beberapa cara penggabungan kekuatan dengan kekuatan dan menjaga sisi-sisi yang terbuka, maka beberapa jalan bagi penyelidikan masa depan mungkin muncul dan berguna.

·         Budaya Sebagai Sistem Ideasional: Paradoks dan Masalah

Ahli-ahli teori tentang budaya sebagai sistem ideasional harus dipilah-pilah lagi. Ahli-ahli teori antropologi modern ini memiliki bersama satu premis penting yang membedakan mereka dari pendahulu mereka. Seperti dikatakan oleh Singer (76), dua tradisi yang sejajar, yaitu antropologi kultural Amerika dan antropologi sosial Inggris, masingmasing mengeluarkan sejenis imperialisme intelektual. Bagi antropologi kultural Amerika, pola-pola sosial adalah salah satu aspek dari budaya. Sebaliknya bagi antropologi sosial Inggris, khususnya Radcliffe-Brown, pola-pola kultural dipandang terkristal dalam struktur sosial, dalam bentuk "cara bertingkah laku dan berpikir yang melembaga dan baku, yang bentuk normalnya diakui secara sosial dalam aturan yang nyata dan tidak nyata, menjadi panduan anggota-anggota dari suatu masyarakat"


BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Kita perlu bekerja dari berbagai arah. Usaha-usaha untuk menetapkan budaya sebagai sistem ideasional dalam. Menerima budaya sebagai satu subsistem ideasional didalam satu sistem yang luar biasa kompleksnya (biologis, sosial, dan simbolik), dan menurunkan model abstrak kita pada kekhususan-kekhususan yang konkrit dari kehidupan sosial manusia, seharusnya memberi kemungkinan bagi dialektika untuk menghasilkan pengertian yang lebih dalam. Budaya tetap ada dan akan selalu ada, maka dari itu kita sebagai warga negara Indonesia yang baik dan bertoleransi harus memahami dan menguasai arti dasar serta teori teori yang menyangkut tentang budaya baik dalam maupun luar negeri.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Nasution, Muhammad Syukri Albani. Ilmu Sosial Budaya Dasar, 2015

https://docs.google.com/presentation/d/1m3XRYvOmcpploFd7B5DdhDdWBdtSJMUl89VHGHsMiEk/htmlpresent#:~:text=%E2%80%9CManusia%20sebagai%20makhluk%20yang%20berbudaya,menciptakan%20kebaikan%2C%20kebenaran%20dan%20keadilan

http://etheses.iainkediri.ac.id/78/5/5%20BAB%20II.pdf

http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2013-1-00459-JP%20Bab2002.pdf

journal.ui.ac.id › article › download

 

 



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musik dan Lagu Daerah : Kampuang Nan Jauh Di Mato dan Talempong - Nadievya Rizqi (10520703) 1PA05 - Ilmu Budaya Dasar