Musik dan Lagu Daerah : Kampuang Nan Jauh Di Mato dan Talempong - Nadievya Rizqi (10520703) 1PA05 - Ilmu Budaya Dasar

Kampuang Nan Jauh Di Mato dan Talempong

 

 

 



 

 

 

Dosen pengampu : ELY SAPTO UTOMO, SE, MM

Disusun oleh : NADIEVYA RIZQI

 

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2020



KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikumWr. Wb

Puji syukur hadirat Allah S.W.T yang mengijinkan saya selaku penulis untuk menyelesaikan makalah  ini. Berkat rahmat dan bimbingan-Nya, saya dapat menyelesaikan artikel berjudul "Kampuang Nan Jauh Di Mato dan Talempong" dengan baik. Makalah ini disusun sebagai wujud tugas dari Bapak ELY SAPTO UTOMO, SE, MM pada kursus studi Ilmu Budaya Dasar di Universitas Gunadarma. Selain itu, saya juga berharap agar karya ini dapat memberikan wawasan budaya bagi pembacanya. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak ELY SAPTO UTOMO, SE, MM. selaku dosen pengampu di mata kuliah ini. Penulis menyadari bahwa artikel ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima untuk perbaikan artikel ini.

 

 

 

Jakarta, 26 Desember 2020

 

  

 

Nadievya Rizqi

 

  

BAB I

PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

 


Lagu daerah atau musik daerah atau lagu kedaerahan, adalah lagu atau musik yang berasal dari suatu daerah tertentu dan menjadi populer dinyanyikan baik oleh rakyat daerah tersebut maupun rakyat lainnya. Pada umumnya pencipta lagu daerah ini tidak diketahui lagi alias noname.

Lagu kedaerahan mirip dengan lagu kebangsaan, namun statusnya hanya bersifat kedaerahan saja. Lagu kedaerahan biasanya memiliki lirik sesuai dengan bahasa daerahnya masing-masing seperti Manuk Dadali dari Jawa Barat dan Rasa Sayange dari Maluku. Hal itu dikarenakan lagu daerah dibuat berdasarkan gaya, tradisi, serta bahasa yang sesuai dengan daerahnya.

Selain lagu daerah, Indonesia juga memiliki beberapa lagu nasional atau lagu patriotik yang dijadikan sebagai lagu penyemangat bagi para pejuang pada masa perang kemerdekaan. Perbedaan antara lagu kebangsaan dengan lagu patriotik adalah bahwa lagu kebangsaan ditetapkan secara resmi menjadi simbol suatu bangsa. Selain itu, lagu kebangsaan biasanya merupakan satu-satunya lagu resmi suatu negara atau daerah yang menjadi ciri khasnya. Lagu Kebangsaan Indonesia adalah Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman.

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan keragaman alat musiknya. Identitas musik Indonesia mulai terbentuk ketika budaya Zaman Perunggu bermigrasi ke Nusantara pada abad ketiga dan kedua Sebelum Masehi. Musik-musik suku tradisional Indonesia umumnya menggunakan instrumen perkusi, terutama gendang dan gong. Beberapa berkembang menjadi musik yang rumit dan berbeda-beda, seperti alat musik petik sasando dari Pulau Rote, angklung dari Jawa Barat, dan musik orkestra gamelan yang kompleks dari Jawa dan Bali

Musik di Indonesia sangat beragam dikarenakan oleh suku-suku di Indonesia yang bermacam-macam, sehingga boleh dikatakan seluruh 17.508 pulaunya memiliki budaya dan seninya sendiri. Indonesia memiliki ribuan jenis musik, kadang-kadang diikuti dengan tarian dan pentas. Musik tradisional yang paling banyak digemari adalah gamelan, angklung dan keroncong, sementara musik modern adalah pop dan dangdut.

 

1.2     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, adapun yang akan dibahas dan menjadi rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:

1.       Apakah judul lagu daerah khas Minang?

2.      Musik apa yang digunakan saat menyanyikan lagu daerah tersebut?

3.      Bagaimana cara menyanyikan lagu dan memainkan musik tersebut?

4.      Bagaimana cara merawat dan melestarikan lagu dan musik tersebut?

 

1.3     Tujuan Penulisan

Berdasarkan Rumusan Masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.      Bisa mengenal dengan baik lagu dan musik khas Minang.

2.      Menghargai dan melestarikan lagu dan musik khas Minang.

4.      Mendalami dan mencoba untuk mempraktekan kegiatan tersebut untuk menambah wawasan agar lebih luas dan lebih mengasah sifat toleransi antar suku dan budaya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  KAJIAN PUSTAKA

2.1.1        Kampuang Nan Jauh di Mato, Lagu populer dari Minang.


Minang, Sumatera Barat terkenal dengan masyarakatnya yang perantau. Tak heran, di setiap daerah di Indonesia tidaklah sulit mencari kawan dari tanah Minang ini. Sudah tak asing apabila kita mendengar lantunan lagu “kampuang nan jauh di mato…”, hal tersebut disebabkan oleh kebiasaan kita ketika kecil mendengarkan lagu tersebut. Namun tahukah kamu kalau lagu legenda tersebut merupakan asal dari Minang, Sumatera Barat?

Kampuang Nan Jauh di Mato ini ternyata merupakan lagu daerah anak-anak nusantara yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Lagu ini dipopulerkan oleh Ester dan dirilis pada tahun 2008 dengan genre lagu anak-anak. Lagu yang diciptakan oleh Oslen Husein 1939 ini sangat populer pada masanya. Seringkali kita jumpai lagu ini di pelajaran sekolah dan menjadi lagu yang paling sering di jadikan contoh sebagai lagu daerah anak-anak.

Lagu ini menceritakan tentang kerinduan seseorang  terhadap kampung halamannya yang jauh disana. Dimana keluarga, kawan dan sanak saudara berkumpul disana. Karena dilihat dari tradisinya, sebagian besar orang Minang merantau ke daerah sebrang.

Dari lagu Kampuang Nan Jauh di Mato, kita dapat melihat bagaimana orang Minang sangat kangen kampung halamannya yang indah, juga kangen teman-teman lama di daerah. Tanah minang digambarkan sebagai daerah bergunung-gunung, penduduknya ramah, juga penduduknya senang bergotong-royong.


2.1.2        Alat Musik Talempong khas Sumatera Barat




Beratus tahun, rancak talempong menggema di ranah Minang. Perubahan sesuai dinamika masyarakat, termasuk menjadi produk hiburan, membuat talempong tak lagi canggung dikawinkan dengan alat musik modern. Dengan cara itu, talempong bertahan melintasi zaman. Diperkirakan talempong sudah ada sejak masa kedatangan Islam di Sumatera pada akhir abad ke-13.

Keberadaan talempong di bumi Minangkabau tercatat sejak abad ke-14. Dia tak lenyap ditelan zaman, tetapi membuktikan bahwa dia digdaya melintasi perubahan zaman. Kini, talempong dimainkan anak-anak muda berbagai usia dalam warna musik yang lebih beragam

Menurut Jennifer A Fraser dalam buku Gongs & Pop Songs: Sounding Minangkabau in Indonesia menyebutkan, tidak ada bukti arkeologi atau bukti sejarah yang secara akurat menyebutkan asal-usul talempong. Namun, menurut Margareth J Kartomi (1998), diperkirakan talempong sudah ada sejak masa kedatangan Islam di Sumatera pada akhir abad ke-13.

Dalam artikel Musical Strata in Sumatera, Java and Bali, Margareth menyebutkan, para perajin perunggu dari Tonkin, utara Vietnam, datang ke Minangkabau beberapa abad sebelum Masehi. Pada zaman yang disebut Zaman Perunggu itu diperkirakan talempong dan juga gong dibawa oleh nenek moyang orang Minangkabau.

                Alat musik ini konon biasa dipergunakan untuk menyertai keberangkatan raja bersama rombongan tatkala menemui orang-orang Portugis di Pantai Tiku. Pantai Tiku adalah salah satu pantai indah yang terletak di Kabupaten Agam.

Saat ini, Kabupaten Agam, khususnya Sungai Puar, dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan talempong. Alat musik yang terbuat dari bahan yang terdiri dari campuran logam tembaga, timah putih, dan seng ini dibuat dengan teknik a cire purdue, yaitu cara pembuatan alat berbahan logam dengan lebih dulu membuat patron atau bentuk dasarnya. Bahannya menggunakan lilin.

Patron atau bentuk dasar tersebut selanjutnya dibalut tanah liat, dikeringkan dengan cara dijemur, kemudian dibakar. Setelah pembakaran, cairan lilin dikeluarkan sehingga memunculkan rongga yang lantas diisi cairan logam. Setelah cairan logam membeku, baru dilakukan proses penggerindaan, pemolesan, dan penyeteman nada. Teknik pembuatan a cire purdue pada talempong membedakan dengan teknik pembuatan gamelan Jawa yang menggunakan metode tempaan.

 

2.1.3       Menyanyikan lagu Kampuang Nan Jauh di Mato dan memainkan alat music Talempong

                Setelah mengetahui tentang Kampuang Nan Jauh di Mato serta Talempong, mari kita lihat bagaimana cara menyanyikan lagu tersebut dan memainkan alat musik tersebut.

Lirik Kampuang Nan Jauh di Mato

Kampuang nan jauah di mato

Gunuang sansai ba kuliliang

Takana jo kawan-kawan Den lamo

Sangkek basuliang-suliang

Panduduaknyo nan elok

Nan suko bagotong royong

Kok susah samo-samo di raso

Den takana jo kampuang

Takana jo kampuang

Induak, Ayah, Adiak sadonyo

Raso maimbau-imbau Den pulang

Den takana jo kampuang

Kampuang nan jauah di mato

Gunuang sansai ba kuliliang

Takana jo kawan-kawan Den lamo

Sangkek basuliang-suliang

Panduduaknyo nan elok

Nan suko bagotong royong

Kok susah samo-samo di raso

Den takana jo kampuang

Takana jo kampuang

Induak, Ayah, Adiak sadonyo

Raso maimbau-imbau Den pulang

Den takana jo kampuang

Takana.. jo kampuang..

Takana.. jo kampuang..

Takana.. jo kampuang..

Takana..

Talempong awalnya hanya bernada pentatonic. Namun seiring perkembangan zaman, talempong dikembangkan menjadi diatonic sehingga alat music tersebut bisa dikolaborasikan dengan alat musik modern. Berikut adalah perbedaan talempong tradisional dan modern.

Tradisional


Pada talempong tradisional terdapat pada talempok pacik yang bersistem nada pentatonik. Pada teknik pertama, seperangkat alat musik talempong pacik tersebut dijinjing dan dimainkan oleh tiga orang. Seorang memainkan dua buah talempong dengan cara dijinjing menggunakan tangan kiri dalam posisi vertical dan dipukul dengan kayu pemukul (stik) menggunakan tangan kanan, atau sebaliknya. Talempong yang sebelah atas dijepit dengan ibu jari dan telunjuk, talempong yang sebelah bawah digantungkan pada jari tengah, manis, dan kelingkung. Jari telunjuk berfungsi sebagai pemisah di antara talempong agar tidak bersentuhan. Sehingga dengan demikian talempong dapat menghasilkan suara atau nada yang nyaring.

Modern


Pada talempong modern terdapat talempong kreasi baru yang bersistem nada diatonic. Talempong diletakkan di atas real atau rancakan. Cara memainkannya tidak jauh berbeda dengan teknik tradisional, yaitu dengan cara dipukul dengan stik pemukul. Talempong dimainkan dengan sistem melodi, mengacu pada beberapa lagu yang ritmik dan bisa dikolaborasikan atau dimainkan bersama alat musik lainnya.

 

2.1.4      Melestarikan lagu dan musik Minang

                Setelah mengetahui bagaimana asal usul, lirik, cara menyanyikan dan memainkan dari lagu Kampuang Nan Jauh di Mato serta alat musik talempong, mari kita memasuki materi bagaimana cara melestarikan dan mempertahankan lagu dan alat musik daerah tersebut.

Kita perlu melestarikan dan mempertahankan lagu dan alat musik daerah tak hanya dari Minang saja namun seluruh daerah di Indonesia. Mengapa kita wajib dan perlu melakukan hal tersebut? Perilaku ini diperlukan agar anak cucu kita kelak tidak melupakan bagaimana lagu dan alat musik daerah yang legendaris ini.


Mengingat banyaknya anak zaman sekarang yang mulai melupakan atau bahkan tidak tau tentang lagu dan alat musik daerah tentu membuat hati kita menjadi teriris. Maka dari itu, hal ini perlu kita jaga dan kita lestarikan agar tidak terlekang oleh waktu. Namun, bagaimana cara melestarikan hal ini?

1.       Menyanyikan lagu Kampuang Nan Jauh di Mato dan memainkan alat musik Talempong ketika memiliki waktu senggang.

2.     Mengajak teman, saudara, anak, cucu, dll untuk berpartisipasi dalam menyanyikan dan memainkan hal tersebut.

3.      Mengajak orang orang untuk ke museum serta mempelajari lebih lanjut tentang lagu dan alat musik daerah melalui museum atau aplikasi online.

4.      Berusaha mengenalkan lagu Kampuang Nan Jauh di Mato serta alat musik Talempong ke kancah Internasional namun tetap menekankan bahwa hal ini merupakan khas Indonesia.

5.      Membuat kompetisi atau lomba agar banyak yang tertarik sehingga banyak yang ingin mempelajari lagu dan alat musik daerah.

Namun, tak hanya yang disebutkan diatas saja. Kita bisa mencari inovasi dan mengasah kreativitas kita agar kita dapat memperkenalkan bahwa banyaknya lagu dan alat musik daerah dari Indonesia yang beragam serta bervariasi.

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

 

Dalam makalah ini dapat disimpulkan bahwa perlu adanya pengetahuan atau penerapan serta penalaran tentang lagu dan alat musik daerah di Indonesia, hal ini perlu diperhatikan agar tidak ada satupun peninggalan leluhur kita yang terlupakan.

Salah satu media yang dapat dimanfaatkan untuk mengenal dan mempelajari lebih dalam tentang lagu dan alat musik daerah adalah situs situs online atau pembelajaran online melalui aplikasi daring.

Maka dari itu tidak ada lagi alasan untuk anak dan cucu kita kelak apabila tidak mengetahui atau bahkan tidak mengenal lagu dan alat musik daerah sendiri di era atau zaman modern yang teknologinya sudah maju seperti sekarang ini.

 

  

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Fraser, Jennifer A Fraser Gongs & Pop Songs: Sounding Minangkabau in IndonesiaOhio University Press, 2015

Wikipedia “Kampuang Nan Jauh di Mato”

Ardiansjah, Noer. “Senandung Perantau dalam Lagu Kampuang nan Jauh di Mato” MerahPutih, 2016

PT Kompas Media Nusantara. “Talempong Melintasi Zaman” Interaktif Kompas




 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Budaya dari Berbagai Sumber - Nadievya Rizqi (10520703) 1PA05 - Ilmu Budaya Dasar